Joachim Low tidak bisa bertahan dari penghinaan Piala Dunia Jerman

Hal yang paling mengagumkan perihal keluarnya Piala Dunia Jerman di sesi penyisihan group yaitu jika matahari tetap terbit pagi hari ini. Anda akan tidak memikirkan demikian pada hari Rabu malam. Siapa juga yang jalan di jalanan Berlin selalu memandang wajah-wajah kosong beberapa orang yang jalan seperti zombie ke stasiun kereta bawah tanah selanjutnya serta terasa seperti penambahan dalam sebagian drama pasca-apokaliptik. Seorang bisa memahami kenapa beberapa pengagum itu terperanjat. Bila Anda mengkalkulasi Piala Konfederasi jadi turnamen besar, Jerman sudah capai delapan semi final di acara-acara besar berturut-turut mulai sejak 2005. Lepas dari kenyataan tak ada yang sempat capai apapun begini pada awal mulanya – bahkan juga tak satu juga dari demikian banyak pemain Brasil tim-tim dalam histori, bahkan juga orang Jerman sendiri pada awal mulanya – itu bikin negara itu jadi rasa aman yang nyatanya sangatlah salah. Janganlah salah, ada sinyal tanda peringatan saat sebelum tim nasional pergi ke Rusia. Bukanlah debat perihal kesehatan di seputar sebagian pemain, terpenting Manuel Neuer. Itu sama dengan untuk pelatihan, lantaran Jerman senantiasa pergi ke Piala Dunia dihantui oleh kecemasan cedera. Tak, itu lebih lantaran situasi hati yang aneh sudah menyelimuti tim di minggu-minggu saat sebelum turnamen. Kompetisi persiapan lesu, seperti kompetisi group yang dibarengi. Lalu ada perbincangan yang dipicu oleh pertemuan Mesut Özil serta Ilkay Gündogan dengan Presiden Turki Recep Erdogan.

Sangatlah mengagetkan dengar fans Jerman mencela pemain internasional Jerman. Itu jelas ada dibawah kulit Gündogan serta sesaat Özil dengan lahiriah masih jadi dianya yang tidak bisa dipahami, kita bisa beranggapan dia juga terguncang. Pada akhirnya, ada laporan perihal dua tim di skuad ; beberapa pemain mapan yang memenangi Piala Dunia serta beberapa remaja yang lapar yang mengusung Piala Konfederasi. Keretakan itu mungkin saja tak sedalam yang dinyatakan oleh sebagian pengamat, namun kebanyakan orang dapat lihat jika ada ketidaksamaan dunia pada pemain yang lapar serta ingin menunjukkan diri – fikir Marco Reus serta Julian Brandt – serta beberapa besar veteran. Untuk pertamanya, baik jadi asisten atau pelatih kepala, Joachim Löw tidak berhasil membuat semangat tim, dengan tradisionil kemampuan paling besar timnya. Low mesti merasakannya, lantaran kecemasan ini mungkin saja kenapa dia tak menyebut striker Bayern Munich Sandro Wagner serta memotong Leroy Sané dari Manchester City dari skuad. Dua pemain dengan sedikit ego. Bahkan juga beberapa fans kelihatannya tak siap untuk turnamen ini. Ada bendera Jerman yang tambah lebih sedikit dari pada yang kita kenali mulai sejak Piala Dunia 2006. Satu teori menyampaikan kebangkitan hak politik sudah mengenalkan kembali skeptisisme perihal pemakaian lambang nasional. Point lainnya menuju kekecewaan yang berkembang dengan sepakbola pada umumnya, dilambangkan oleh semuanya memprotes pengagum sepanjang musim Bundesliga yang barusan berlalu. Dengan pribadi, saya fikir beberapa pengagum sama dengan beberapa pemain – capek. Maka bagaimanakah saat ini? Pertama, Low mesti mundur.

Lihat Juga :  Mo Salah's air mata dan penderitaan akhir yang kejam untuk musim sukacita dengan Liverpool

Tak, ini bukanlah panggilan populis untuk kepala berguling, saya cuma menyebutkan yang pasti. Sebetulnya, terdapat beberapa argumen bagus kenapa dia mesti masih tinggal, diawali dengan kenyataan jika hanya satu penggantinya yang logis mustahil meninggalkan Anfield kurun waktu dekat. Tetapi ketentuan tak tercatat menyampaikan pelatih nasional kami mesti mengundurkan diri bila tim tersingkir di perempat final turnamen. Low mungkin saja bakal jadi manajer Jerman pertama yang memecahkan ini, serta bahkan juga mungkin saja menjaga pekerjaannya bila timnya sudah tersingkir di sesi 16 besar oleh pemain seperti Brasil. Namun sesi penyisihan group? Mustahil. Tim nasional yaitu instansi seperti Volkswagen, atau satu diantara partai besar. Serta sudah pasti CEO Volkswagen Martin Winterkorn mengundurkan diri di dalam skandal emisi, menyebutkan : ” Saya lakukan ini untuk kebutuhan perusahaan walau saya tak sadari ada kekeliruan di pihak saya. ” Serta, sudah pasti, pemimpin partai mundur sesudah hasil pemilu yang jelek, cuma karenanya yaitu tanggung jawabnya. Juga, sebetulnya tak ada alternatif. Untuk masih memakai analogi politik – bila Low mengambil keputusan untuk meneruskan, dia bakal jadi bebek duduk, cukup serupa dengan Demokrat Sosial Martin Schulz, yang pilih tidak untuk mengundurkan diri sesudah bencana pemilihannya pada September 2017. Namun sudah pasti kedudukannya dimuka umum demikian rusak hingga dia terlambat melemparkan handuk lima bln. sesudah kekalahan bersejarah. Namun seseorang manajer nasional baru akan tidak cukup. Argumen lainnya kenapa pintu keluar awal Jerman tak betul-betul tak terduga yaitu kenyataan jika musim club Eropa beberapa waktu terakhir merupakan bencana untuk Bundesliga.

Lihat Juga :  Lopetegui keluar, Hierro di Spanyol meninggalkan terguncang dalam persiapan Piala Dunia Shambolic

Mulai sejak Piala Dunia 2014, cuma empat club Jerman sudah capai perempat final Liga Europa serta tak satu juga yang bikin semi final. Bakal ada panggilan untuk pemikiran lagi radikal – serta itu umumnya bermakna serangan pada ketentuan 50 + 1 (yang menahan club kami dipunyai atau dikendalikan oleh individu atau perusahaan). Tetapi, untuk siapa juga yang perduli dengan tim nasional, ini bakal jadi skenario terburuk yang mungkin saja berlangsung. Semuanya contoh dari luar negeri tunjukkan jika investor yang berkantong tebal tak tertarik untuk menjaga talenta homegrown, lantaran ini memerlukan waktu serta tak glamor. Seandainya beberapa investor yang semestinya menanti untuk menenggelamkan uang tunai dalam jumlahnya besar ke club kami betul-betul ada, uang mereka bakal beli bintang asing yang mahal yang bakal buang talenta Jerman ke bangku cadangan. Maka kita mesti meneruskan di jalur yang sudah kita tentukan – namun kita juga mesti bertanya satu pertanyaan yang betul-betul mencemaskan. Ini yaitu pertanyaan yang bukan sekedar dibangkitkan oleh kemampuan tim di Rusia, namun juga oleh kenyataan jika Borussia Dortmund, yang dengan luas dipuji lantaran pergerakan pemuda mereka, cuma mempunyai satu pemain di skuad Piala Dunia Jerman lantaran talenta yang dijaga club itu condong asing. : Christian Pulisic, Ousmane Dembélé, Jadon Sancho. Pertanyaannya yaitu : apakah kita memenangi Piala Dunia 2014 lantaran Program Pengembangan Talenta kita yang populer bekerja memperlakukan serta membuahkan pemain mengagumkan, atau apakah kita cuma mujur jadi satu generasi emas serta saat ini mesti menanti hingga tangan nasib menawari kita selanjutnya?

Lihat Juga :  Manchester United Selangkah Lagi Rekrut Gelandang Asal Brasil

Baca Juga :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2018 Agen Casino | Agen Sbobet | Agen Judi | Judi Online | Judi Bola | Agen Poker | Agen Togel All Rights Reserved. Frontier Theme